Friday, December 6, 2013

Something Annoying My Mind...


Kasih Tuhan mendorong daku
Memb’ritakan InjilNya
Pada umat yang hidup dalam dosa
Menghantar m’reka pada Hu
Hanyalah Kristus Jurus’lamat yang hidup
Kasih Tuhan mendorong daku
B’ritakan InjilNya s’lamanya

Lagu ini baru diciptakan oleh Pdt Dr Stephen Tong, tepatnya tanggal 5 November 2013 sekitar jam 3 pagi.
Jemaat yang hadir pada KIN 5 Nov yang lalu mendapat berkat pertama dari lagu tersebut. Dalam kesibukan KIN (Konvensi Injil Indonesia, acara dimana pendeta Indonesia dari Sabang sampai Merauke dikumpulkan bersama di RMCI (baca:Reformed Millenium Centre Indonesia) untuk dididik bersama oleh Firman Tuhan yang sejati, kembali dikobarkan api semangat penginjilan yang mungkin selama ini terlupakan oleh gereja, dimana para hamba Tuhan yang hadir boleh kembali disegarkan untuk berperang merebut jiwa-jiwa yang terhilang), beliau menulis lagu ini. *padahal bagiku itu lagi jam yang paling nyenyak buat tidur...>.
Saat lagu ini dinyanyikan oleh beliau kemudian dinyanyikan bersama, aku bisa menikmati betapa hangatnya kasih Tuhan yang mengalir, yang menguatkan dan mendorong hati untuk terus belajar mengasihi jiwa-jiwa. Waktu doa penutup sesi tanggal 5 itu, beliau mengajak kita untuk mendoakan supaya kita minta kepekaan dan keberanian untuk memberitakan Injil. fiuh..seketika itu menjadi bagian yang paling deg-degan untuk didoakan.

KIN yang diadakan mulai dari tanggal 4 November-10 November 2013 yang akan datang menjadi suatu moment perenungan juga bagi aku.  Sempat hadir 2 malam pada sesi umum (walaupun sangat bergumul untuk datang karena pulang lumayan malam untuk jarak yang cukup jauh), tapi kemurahan Tuhan mengijinkan aku merenungkan beberapa hal yang sampai saat ini masih terus aku renungkan.
Saya yakin sebenarnya banyak penyertaan Tuhan di balik persiapan KIN ini. Salah satu yang aku tahu adalah mengenai kondisi kesehatan Pak Tong. Pendeta yang sudah berusia 73 tahun tapi saat beliau khotbah tidak terlihat sama sekali kelelahan di wajahnya. Suaranya lantang mengabarkan Firman, semangatnya begitu membara saat berkhotbah. 
Sekitar 1 minggu sebelum KIN dimulai, Pak Tong divonis harus menjalani operasi jantung dimana saat itu jantungnya dalam kondisi 58% tersumbat. Dokter bilang sewaktu-waktu beliau bisa meninggal kapan saja. Tapi Pak Tong menolak tawaran operasi itu. Dia bilang sekalipun dia dioperasi adalah setelah KIN dan KPIN selesai. Pak Tong bilang ada pekerjaan Tuhan yang harus diselesaikan. Dokter masih terus mencoba bernegosiasi dengan beliau, bahkan meminta KIN dan KPIN ini ditunda 2 bulan lagi setelah Pak Tong pulih.  Tapi jawaban beliau masih sama. Sampai akhirnya dokter mengijinkan beliau untuk kembali ke Indo melanjutkan pelayanannya.
Saat menceritakannya, Pak Tong membawakan dengan guyon khasnya. Tapi tanpa sadar air mataku menetes. Saat itu juga aku berkata dalam hati, “Tuhan, aku tau bagaimana gentingnya kondisi beliau sampai dokter menyuruh dia untuk segera melakukan operasi. Tapi dia memilih untuk taat mengerjakan panggilanMu. Tuhan, begitu besarnya cinta Pak Tong padaMu, bahkan dia mau mempertaruhkan nyawanya bagiMu..  Saat dia bercerita, aku bisa melihat tidak ada penyesalan jika harus mati demi namaMu. “ Dia pernah bilang jika diijinkan Tuhan, dia mau mati di atas mimbar. Aku bisa melihat spirit Paulus di dalam diri beliau.  Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. satu kalimat yang sering beliau sampaikan dalam khotbahnya "gereja yang tidak mengabarkan Injil adalah gereja yang bunuh diri" menurutku itu kalimat yang cukup pedas dan tajam untuk realita kondisi gereja saat ini...

Terbersit dalam pikiranku, kenapa hamba Tuhan seperti Pak Tong dan pendeta lainnya, para misionaris bisa demikian mencintai Tuhan? Mereka bisa sampai memberikan harta, melepaskan cita-cita tinggi dan ambisi mereka. Beberapa profil pendeta di GRII, beberapa alumni yang saya kenal dan akhirnya menyerahkan diri untuk menjadi pekerja Kristus, rela melepas kesempatan untuk berkarir dan menghasilkan banyak uang untuk menjadi hamba Tuhan full timer yang harus bergumul tiap hari untuk kebutuhan sehari-harinya, melepaskan kesempatan untuk menjadi sukses dan kaya, padahal mereka adalah orang-orang potential untuk menjadi sukses. Mereka adalah orang yang sungguh-sungguh menikmati kasih Tuhan dan mempunyai perenungan yang begitu dalam sampai rela melepaskan semuanya.

Well….mungkin aku belum bisa melakukan hal seperti yang dilakukan mereka. Masih jauh banget deh…..Aku gak bisa bilang setiap orang yang cinta Kristus harus menjadi pendeta. Tiap orang mempunyai panggilannya masing-masing. Berkarir di dunia kerja, bahkan dunia politik pun, menjadi ibu rumah tangga, berwiraswasta, semuanya punya pergumulan masing-masing. Tapi akhirnya kembali pada Sang Empunya hidup kita. Terus menggumulkan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita, belajar menyangkal diri untuk setia mengerjakan panggilanNya sampai akhir hayat.

Oct 7 2013 @ Rmy’s room 10.39pm